Kerja dan Pemenuhan Diri: Perjalanan Awal dari Wiraswastawan Sosial Pengetahuan

Saya masih teringat kalau Marx pernah menekankan kerja sebagai sesuatu yang esensial atau mendasar dalam kehidupan manusia. Hal ini nanti terkait dengan bagaimana seseorang akan mendapatkan pemenuhan dirinya. Jika ia bekerja dengan sukacita, tentunya ia akan menjadi lebih produktif dan menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat. Namun demikian, kondisi sebaliknya akan terjadi ketika seseorang merasakan ketakpenuhan, baik dari aspek kebutuhan materialnya maupun dari aspek mentalnya. Ia akan mengalami keterasingannya sendiri, begitu Marx bersabda. [Lihat ulasan Magnis dalam Poespowardojo & Bertens, “Sekitar Manusia” (Gramedia, 1978, hal. 72-94). Kalau keliru, tolong dikoreksi ya? 😊 ] *)

Marx mungkin benar ketika melihat sisi ini. Ia lebih mengakar bila dibandingkan asketisme Timur ataupun gaya filosofi idealis macam Plato. Namun, yang menjadi kurang dari analisis Marx adalah soal bagaimana pemenuhan diri itu dipahami. Marx malah mengusulkan penghapusan sistem kapitalistik yang membelenggu pekerja. Ini suatu kerja sulit dan panjang sebenarnya mengingat 137 tahun setelah ia wafat pun tak kunjung berubah keadaannya. Merujuk dan memperhatikan pengalaman orang itu sendiri, pemenuhan diri tidak akan sama untuk diri kita masing-masing. Seorang yang terpanggil hatinya sebagai abdi dalem di Kraton Yogyakarta akan menerima kekucah (gaji) sebesar Rp. 15.000,-/bulan untuk pangkat terendah yang disebut Jajar [ lihat Tempo.co, 24 April 2016 ]. Tentu saja, kekucah sejumlah ini tak akan cukup untuk mereka hidup dalam sebulan. Akan tetapi, besarnya rasa pengabdian itu telah memenuhi hati mereka dan kekurangan dalam penghidupan mereka dapat dicari dari tempat lain.

Pengabdian itu sendiri dipilih oleh seseorang ketika hal itu sejalan dengan hatinya atau memang karena ia berkesesuaian dengan nilai yang dianutnya. Yang pertama menggunakan rasa dan yang kedua memakai nalar. Keduanya tak dapat dipisahkan. Mungkin akan sulit kalau kita bicara/libatkan intuisi di soal ini. Namun, paling tidak, minimal ada kedua aspek yang perlu dicapai untuk dapat menjadi penuh bagi seseorang atas dirinya dalam pekerjaan.

Jika merujuk pada pengalaman pribadi, bekerja adalah pengalaman yang berasal dari rumah sedari kecil. Membantu orangtua adalah pekerjaan yang seringkali dilakukan. Kalau membantu Ibu, saya ditugaskan untuk membantu urus cucian (piring atau baju), belanja ke pasar, memasak, hingga membersihkan rumah. Semua ini dilaksanakan secara penuh terutama di akhir pekan. Dari yang tadinya terpaksa karena harus membantu, saya menjadi otomatis bekerja tanpa diperintah dan melaksanakannya sepenuh hati. Ya, kadang terasa malas, tapi itu juga sesekali. Kalau membantu Bapak, ini lebih banyak dilakukan setelah Bapak pensiun meski tidak secara teratur. Adakalanya menjadi asisten yang menemani kalau diundang pengajian, berbelanja buah/sayur ke pasar, atau juga membereskan kolam sehabis ikan dipanen meski cuma sekali. Memang tidak ada yang istimewa di sini sebagaimana banyak anak Indonesia lakukan itu, tetapi saya menceritakan ini karena hal tersebut telah menjadi fondasi saya dalam bekerja.

Pengalaman pertama bekerja dengan orang lain didapat semasa kuliah di Yogya. Saat itu, tahun 1999, saya berada di semester VIII dan sedang membutuhkan uang tambahan. Pekerjaan juga tak dicari tetapi ditawarkan oleh mantan ibu Kos, mbak Ika, yang ada di Pogung Dalangan. Dia memiliki usaha beragam, dari mulai rumah makan, kios koran/majalah di bunderan UGM dan di jalan Kaliurang seberang gedung Magister Manajemen UGM, serta persewaan VCD. Saya ditawarkan bekerja sebagai penjaga VCD dengan piket malam. Meski gaji yang didapat tak seberapa, tetapi lumayan lah karena saya sudah tidak kuat lagi puasa Daud seperti dilakukan pada dua tahun pertama kuliah. Saya bekerja di sana hingga 6 bulan saja karena ada hal lain yang harus saya lakukan.

Begitu lepas dari kuliah di Yogyakarta pada tahun 2003, saya mendapat tawaran kerja dari seorang teman, Nadhif Alawi, untuk bekerja lepas sebagai notulen. Acaranya berlangsung di Lombok selama 3 hari dan ini kali pertama saya naik pesawat. Saya merasa agak grogi saat hendak berangkat. [ 😃 ] Maklum, walaupun lahir di Jakarta, saya besar di Singaparna. Saat itu, Singaparna belum menjadi ibukota Kabupaten Tasikmalaya dan masih terbilang kampung lah kalau dibandingkan Tasikmalaya yang menjadi Ibukota Kota Tasikmalaya. Singkat cerita, pada saat acara tersebut saya ditawari Gus Saifuddin (sekarang dikenal sebagai KH. Saifuddin Zuhri), putra Mbah Lim dari Klaten, untuk bekerja lagi pada kegiatan lain. Namun, saya waktu itu hanya terdiam tak dapat menjawab dan untungnya mas Nadhif ini yang bantu jelaskan kalau saya memang ingin kembali ke Tasikmalaya mengikuti panggilan hati.

Di September 2003, saya memulai pekerjaan sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Hukum Galunggung, Kota Tasikmalaya. Waktu awal masuk kerja, rasanya masih canggung dan tiba-tiba sudah diseret untuk ke kelas Antropologi Budaya yang diasuh alm. Pak Tatang RW untuk memperkenalkan diri ke mahasiswa/i. Tanpa babibu lagi, saya sudah langsung ditinggal di kelas dan akhirnya berbicara sekenanya. [ Untungnya, pertemuan pertama tidak perlu membahas materi 😛 ] Pengalaman yang mengejutkan, tetapi dapat pula diatasi hingga saya terus bertahan di tahun-tahun berikutnya.

Setelah itu, pekerjaan demi pekerjaan saya telah coba dan upayakan. Dari mulai kerja sebagai Pendamping UMKM di Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Barat di tahun 2006 hingga di Universitas Indonesia sebagai Dosen Luar Biasa di tahun 2017. Meski telah diupayakan dengan sepenuh hati, saya tetap merasa asing dengan semuanya. Belakangan, di 2 bulan yang lalu, saya merasa capek sekali dengan gejala fisik yang mengganggu proses kerja saya. Kepala terasa sakit dan gigi ngilu tiap kali melakukan pekerjaan. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai Dosen dari Sekolah Tinggi Hukum Galunggung sepenuhnya dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Program Pascasarjana per 7 Agustus 2020.

Badan saya ternyata tidak dapat dipaksa lagi. Ini adalah akumulasi dari kerja di tiga tempat, yaitu di Sekolah Tinggi Hukum Galunggung dengan tugas belajar S3, di Sakola sebagai Duta Kecerdasan Digital dari DQ Institute di Singapura, dan di Sekolah Kajian Strategik dan Global, Universitas Indonesia. Di tahun 2017, semuanya harus dikerjakan bersamaan. Pada akhirnya, saya lepaskan satu demi satu. Saya undur diri dari Direktur Pendidikan Keunggulan Digital di Sakola pada Agustus 2019 setelah menyelesaikan proyek kerjasama dengan Stella Maris International School di Bumi Serpong Damai. Untuk kerja di Universitas Indonesia, saya mungkin akan bertahan selama 1 semester lagi setelah menolak untuk dijadikan Dosen Tetap melalui tawaran dari Dosen saya, Dr. Akhyar Yusuf Lubis pada 8 Agustus lalu. Saya berterimakasih untuk ini, tetapi saya tidak sedang dalam kondisi terbaik untuk model performa akademik sekarang ini. “Masih ada yang lebih pintar dan kompeten untuk UI kalau diumumkan secara terbuka,” ujar saya, jika UI ingin mencari pengganti beliaunya.

Yang juga menjadi persoalan untuk saya, terkait dengan keterasingan yang telah diidentifikasi oleh Marx, adalah soal pemenuhan diri. Selama bekerja di Sekolah Tinggi Hukum Galunggung selama 17 tahun, saya tidak merasa terpenuhkan. Tidak ada ruang diskusi yang baik, tidak ada perpustakaan yang menyenangkan, dan tidak ada teman yang asyik untuk mengasah diri. Saya lebih banyak disibukkan dengan urusan administratif dan kerja menyelesaikan masalah. Saya memang belajar banyak dari pekerjaan ini dan hampir semua pekerjaan yang berurusan dengan soal pengelolaan Perguruan Tinggi ada di benak saya hingga ke detil yang paling teknis. Ini berbeda dengan idealisme yang saya bawa ketika pertama kali masuk. Saya ingin ada perguruan tinggi daerah yang dapat berkembang hingga menyamai Harvard University. Mungkin terasa muluk bagi teman-teman saya di sana, tetapi tidak bagi saya. Untuk apa bermimpi kalau tidak setinggi langit? Terlalu kecil untuk saya kalau cuma bermimpi menjadi yang terbaik di Priangan Timur atau di Jawa Barat saja. Akhirnya, saya pun menyerah dengan orang-orang yang maunya itu-itu saja, selain karena fisik saya yang tidak mungkin untuk diforsir lagi. Tugas saya sudah selesai di sana. Let the game begin without me now! [ 😊 ]

Saya kini lebih tertarik dan tertantang untuk memulai pekerjaan sebagai seorang wiraswasta sosial pengetahuan. Ini karena saya senang belajar apa pun, bukan cuma filsafat. Untuk konsep tersebut, sebenarnya ini diambil dari dua konsep yang berbeda. Yang pertama berasal dari konsep Muhammad Yunus tentang Bisnis Sosial dan yang kedua berasal dari konsep Knowledgepreneur. Bisnis Sosial, sebagaimana dicontohkan oleh Bank Grameen, adalah unit usaha yang dikelola secara professional tetapi marginnya tidak dikembalikan lagi pada sang pemilik atau investor. Meskipun begitu, investasi yang sudah ditanamkan pada usahanya tetap akan dibayarkan kembali sampai tuntas. Adapun margin yang didapat itu sendiri akan didistribusikan pada dua aspek, yaitu (1) pengembangan usahanya sendiri beserta kompetensi pengelolanya dan (2) penguatan jaring sosial serta kesejahteraan masyarakat. [ Lihat Yunus, “Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan” (Gramedia, 2008) untuk penjelasan selengkapnya ]

Sementara itu, Knowledgepreneur adalah bahasa keren untuk konsultan, trainer, atau yang sejenisnya. Modalnya adalah pengetahuan yang dikomersialkan melalui analisis penyelesaian masalah, pelatihan keterampilan, pendampingan, atau hal-hal lainnya. Akan tetapi, sebenarnya, maksud saya agak lain dengan istilah ini. Saya pada dasarnya ingin berbagi pengetahuan yang telah saya dapatkan ke banyak pihak dengan bekerjasama secara fair dan transparan. Ada yang gratis seperti nanti saya lakukan dengan tulisan di media sosial, laman pribadi, atau format lainnya, dan ada yang professional tetapi dengan harga terjangkau banyak pihak. Intinya adalah hasil dari apa yang saya dapatkan akan dipakai untuk biaya riset saya, belajar hal yang baru, dan akan saya bagikan lagi kepada yang membutuhkan atau membantu kerja sosial yang sudah dipikirkan. Inilah maksud Bisnis Sosial dari Knowledgepreneur. Berbagi pengetahuan untuk mengembangkan pengetahuan lainnya bagi kepentingan sosial.

Walaupun sudah cukup jelas dalam bayangan, saya tidak hendak berencana detil seperti yang dilakukan dalam perencanaan bisnis seperti biasanya. Saya lagi dalam slow mode dan lagian ini masih masa pandemi. Hidup harus cukup fleksibel dengan situasi dan kondisi yang ada. Seperti tibanya burung gereja kecil yang datang kemarin karena ditangkap kucing kami yang bernama Gori, saya masih berada di awal perjalanan. Sayang, karena kesalahan penanganan yang saya lakukan, burungnya telah meninggal. Ini menunjukkan kalau saya masih belum banyak belajar. Ada banyak hal yang belum saya ketahui, termasuk cara menolong burung sekecil itu. Sama halnya ketika dua bayi tupai yang didatangkan pada kami di bulan lalu, satu karena ditangkap kucing kami yang bernama Zara dan satu lagi tiba-tiba jatuh di halaman depan, kami belum dapat menolongnya. Sedih rasanya tidak dapat menjaga apa yang dititipkan pada kami. Saya ingin belajar untuk ini dan hal lainnya agar seiring dengan pekerjaan yang akan saya lakukan. Rasanya akan penuh jika dapat menolong mereka ini karena itu akan berarti bagi kehidupan.

Depok, 14 Agustus 2020

*) Tafsiran yang berkaitan dengan alienasi sebagai aktualisasi diri (self-actualization) dapat dibaca dalam karya Elster, Wood, dan Peffer. Lihat bahasan ini secara lebih jauh dalam R. Smith, “Marx’s Concept of Alienation,” Topoi, vol. 15, issue 2 (1996).


Unduh artikel/esai ini dalam bentuk pdf